Analisa Gerakan Dermaga Apung dengan Menggunakan Software Moses (Studi Kasus: Pasca Gempa Di Gili Trawangan)

Asep Irwan

Abstract

Bangunan terapung saat ini sudah banyak digunakan baik untuk kegiatan transportasi ataupun sarana penunjang lainnya. Salah satunya dermaga pontoon yang digunakan sebagai sarana tambat
kapal baik di laut maupun di danau. Selain memberikan dampak positif bangunan ini juga sangat efektif dan efisien hal ini dikarenakan mudah dibuat, tidak memakan waktu lama serta ramah lingkungan dibandingkan jenis dermaga pada umumnya. Metode penelitian yang dilakukan dengan menggambil studi kasus di daerah perairan Gili Trawangan, di mana untuk simulasi menggunakan perangkat lunak MOSES. Batasan penelitian terfokus pada pengaruh gelombang yang akan dikaji dalam studi karakteristik gerakan pontoon yaitu dari arah pembebanan 0, 45, dan 90 kemudian pemodelan pile diasumsikan menggunakan sistem mooring. Berdasarkan kriteria batas operasional, maka dari hasil analisa gerakan pontoon untuk arah pembebanan 0o, 45o, dan 90o didapat nilai maksimum Gerakan Heave (arah sumbu-z) sebesar 0.609 m dan batas kriteria yang diizinkan yaitu sebesar 1.96 m sehingga masih memenuhi. Maka pontoon tersebut dapat digunakan sebagai dermaga apung karena mempunyai nilai Gerakan Heave (arah sumbu-z) di bawah kriteria batas operasional, sehingga aman untuk dijalankan.

Keywords

heave, software moses, mooring, pontoon.

Full Text:

PDF

References

Chakrabarti, S.K., 1987. Hydrodynamics of Offshore Structure. Berlin: SpringerVerlag.

Olson, S.R., An Evaluation of the Seakeeping Qualities of Naval Combatants, Naval Engineering Journal, ASNE, Vol. 90, No.1, pp. 23- 40 (1978).

Reference Manual For Moses. Bentley Sustaining Infrastucture, Inc. June, 1989 and October 7, 2013.